Pages

the garden of words : sebuah review

Kamis, 12 Februari 2015


Hari yang cerah , dimana fikiranku tiba-tiba berkembang kembali


Ada hal yang tiba-tiba menurutku menarik ,  yaitu ketika menyelesaikan menonton sebuah film animasi produksi jepang (anime ) bernama GARDEN OF WORDS atau dalam indonesia TAMAN HARFIAH.
Menarik dalam hal ini lebih kepada kekagumanku terhadap animasi ini yang aku anggap “masterpiece “
“Garden of the words “ adalah film animasi jepang hasil dari tangan makoto shinkai yang sebelumnya mensutradarai animasi “ 5 cm persecond. Film berdurasi 45 menit ini pada dasarnya lebih menitik beratkan pada genre romance dan slice of life dengan dipadu teknik visual yang mengagumkan. Cerita pada animasi ini berawal dari seorang tokoh bernama Takao Akizuki, 15 tahun yang sering bolos sekolah pada saat hujan turun ke sebuah taman, suatu saat takao bertemu dengan seorang perempuan  berpakaian rapi layaknya seorang pekerja kantoran meminum bir dan membaca sebuah buku sastra jepang klasik.
Ternyata tidak satu atau dua kali takao bertemu dengan perempuan itu, namun setiap kali ke taman itu dia selalu bertemu dengan perempuan itu.
Takao yang suka sekali mendesain  dan membuat sepatu ini bahkan bercita-bercita dapat sekolah di universitas pengerajin sepatu . karena biaya mahal maka dia membagi waktunya untuk bekerja agar cita-citanya dapat tercapai.  Takao mulai tertarik dengan perempuan itu  karena setiap hari perempuan itu selalu berganti-ganti sepatu , hal itu juga menginspirasinya untuk mendesain sepatu . lama – lama mereka berdua semakin dekat. Karena perempuan itu tahu takao suka mendesain sepatu , maka perempuan itu membelikannya sebuah buku desain sepatu. Begitu juga dengan takao yang berjanji akan membuatkan sepatu untuknya.

Karena hal itu takao semakin sadar bahwa dia ingin setiap pagi hujan turun sehingga bisa bertemu dengan perempuan itu ( jatuh cinta )
Namun nasib berkata lain, musim yang berganti membuat hujan semakin jarang turun sehingga takao tidak punya alasan untuk pergi ke taman itu.
Suatu hari dia tidak sengaja mengetahui bahwa perempuan itu adalah seorang di sekolahnya bernama Yukari Yukino yang mau keluar karena punya masalah dengan siswa kelas tiga.
Takao yang mengetahui hal tersebut  bertemu dengan yuki di taman itu. Pada saat itu dia mengatakan jawaban tanka (puisi pendek berisi 5 baris )  yang bernah dikatakan yuki saaat pertama kali bertemu. Kemudian hujan turun dengan deras. Dan yuki mengajak takao untuk berteduh di apartemennya. Pada saat itu takao mengatakn bahwa dia menyukai yuki namun dengan berat yuki menolaknya dan mengatakan bahwa dia adalah gurunya dan sebentar lagi akan pindah kota. Mengetahui akan hal tersebut takao pergi. Karena tidak yakin dengan jawabnnya sendiri, yuki mengejar takao. Dia lalu memeluknya dan mengatakn bahwa selam ini dia takut ke sekolah dan takao lah yang menyelamatkannya.
Ending dari film ini sendiri mereka berdua dan berpisah, takao terus mendesain sepatu dan suatu saat akan menemui yuki.
Film bergenre anime ini memang pantas di bilang masterpiece . tidak hanya ceritanya yang orisinal tapi menyentuh namun lebih menitik beratkan teknik dari bang makoto shinkai dalam mempermainkan bentuk animasi nya sehingga terasa sangat nyata . hal ini sudah dilihat dari detik awal pemutaran film yang terlihat gerakan daun yang menyentuh air terlihat sangat nyata.. begitu juga dengan butiran air yang jatuh di tanah terlihat begitu halus. Dari keseluruhan penggambaran 2 dimensi dari film ini aku merasa memang sangat bagus dan sangat mendetail. dasar dari cerita berupa hujan juga sangat membuat anime ini semakin melow seperti halnya film makoto shinkai sebelumnya, seperti 5  cm persecond atau place promised in our early days.
Mungkin bagi bukan pecinta drama, mungkin anime ini kayaknya akan membosankan , namun dilain hal itu dalam aspek penggambaran lingkungan serta penghayatan cerita yang terlihat sangat “cool “ bisa dibilang memang film ini sangat “masterpiece “ dalam bidangnya. Dan mungkin juga dapat membangkitkan semangat kita dalam berimajinasi menggambarkan dunia dalam bentuk suatu dimensi.
Begitu juga aku,,,  menurutku gak ada salahnya jika lulusan fisika punya impian membuat film bermuatan 2 Dimensi :D  :D .

o iya kalau pengen lebih lanjut bisa dilihat trailernya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

syukron katsiran telah berkomentar dengan baik :D